"TULUS (2)"

01.36.00



Oleh : DHARMA SETYAWAN
 Ketua Komunitas Hijau

“Tulus 2” menyambung bagian pertama bahwa tulus hanya akan mampu dipahami dan dirasakan tanpa harus mendemonstrasikan kata-kata. Karena tulus itu makna ikhlas, sejuk, mengharu biru dan dirindukan siapapun.
Aku telah tulus doakan engkau dalam sholatku supaya Allah memberi ampun atas dosamu. Aku bergantung pada janji Allah walaupun sampai ke lawang langit timbunan dosa, asal memohon ampun dengan tulus akan diampuninya”. (Doa Hamka, seusai menyolatkan jenazah Soekarno).
Begitulah Hamka mengajarkan bagaimana ketulusan, mengajarkan sikap Negarawan yang sebenarnya. Hamka pernah dipenjarakan oleh rezim Soekarno akibat perbedaan pandangan politik. Saya tidak ingin membahas siapa yang salah pada Soekarno kah atau pada Buya Hamka? Pada akhir tulisan ini saya coba kutip bagaimana Pramodya Ananta Toer menjawab tuduhan yang selama ini hinggap dan seolah tindakan menghukumi para negarawan-negarawan itu adalah inisiatif Soekarno.
Hamka bukan sekali saja berseteru dengan Soekarno. Perbedaan ideology yang muncul sangat dinikmati oleh kedua tokoh tersebut. Bukan bermaksud mencairkan, memang kepahlawanan itu muncul atas narasi-narasi yang hadir dan memunculkan Sintesis. Sebagaimana Hegel mengamini bahwa tidak mungkin selesai jika yang terus diributkan adalah tesis dan anti-tesis. Sintesis adalah ruang damai tanpa perlu saling menindas atau membuat semua orang tiarap dan tunduk. Yang diperlukan adalah terus bekerja, berdialektika dan saling mencerdaskan.
Soekarno pernah membrendel Majalah Panji Masyarakat milik Hamka pada 17 Agustus 1960. Alasan Soekarno membrendel majalah tersebut karena menerbitkan tulisan M Hatta berjudul “Demokrasi Kita”. Tulisan yang sangat mengkritik system demokrasi terpimpin di bawah gelora Soekarno.
Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) sebagai partai yang menjadi perjuangan Hamka pun ditumbangkan rezim orde lama tahun 1964. Hamka akhirnya mendekam di penjara selama 2 tahun dengan tuduhan pro-Malaysia. Dipenjara itulah Hamka menyelesaikan tafsir Al-quran yang diberi nama tafsir Al-Azhar.
Bagi Hamka tulus itu adalah ekstensi kebaikan, tidak ada tendesi kepentingan dunia sedikitpun baginya kecuali ingin menegakkan kebenaran. Soekarno dan Hamka adalah sejarah yang beradu dan membangun kecerdasan sejarahnya. Apakah soekarno yang bersalah? Sekali lagi tulisan ini tidak untuk menjawab pertanyaan tersebut. Soekarno punya narasi sendiri bagaimana dia juga berkorban untuk bangsa ini. Soekarno pun memiliki ketulusan zamannya. Masih teringat jelas bagaimana diakhir hidup soekarno yang oleh rezim orde baru dirinya diperlakukan bak binatang. Dengan status tahanan rumahan, Soekarno diperlakukan layaknya orang yang tidak mendapat pelayanan sebagai mantan presiden. Hatta pun menjenguknya dan menangis, Hatta melihat saudara proklamatornya itu mengalami penghianatan keji tanpa kehidupan layak, tanpa medis yang layak, tanpa didampingi keluarga, tanpa makanan yang layak sampai tidak ada yang boleh merawatnya kecuali beberapa orang yang ditunjuk oleh orang suruhan Soeharto dan kawan-kawan. Muka Soekarno bentol-bentol akibat salah obat. Soekarno dijatuhkan sejatuh-jatuhnya sebagaimana ketika dia hidup dibentur-benturkan oleh pembelaan ideology yang sebenarnya semua ia cintai, baik ideology Islam, Nasionalisme dan Komunis yang ia rawat untuk membangun Indonesia. Fakta yang terjadi mimpi Soekarno dijadikan asing untuk menggulingkannya dengan berbagai maacam cara. Tuduhan pro-komunis dan sampai pada by design G 30S/PKI.
Sekali lagi ini tentang ketulusan, tulus pula yang diminta untuk menilai sejarah mana yang benar dan mana yang scenario asing terhadap semua gejala sejarah. Sebagaimana janji saya pada kalimat di atas. Pramodya Ananta Toer orang yang puas mendekam di penjara nusa kambangan, yang puas hantaman popor senjata sampai pendengarannya tuli, orang tua yang di tahun 1999 masih menyemangati mahasiswa untuk merebut people power, orang tua yang dituduh PKI atas karya besarnya “Bumi Manusia”.
Pramodya yang juga tersakiti oleh rezim Soekarno ditahun 1999 mengatakan “Angkatan Darat itu adalah Negara dalam Negara, sewaktu Soekarno memimpin ada pemerintahan lain yaitu pemerintahan angkatan darat. Saat saya diculik, saat itu adalah atas perintah angkatan darat bukan perintah Soekarno”. Begitulah ungkapan Kakek Pram seorang penulis, sosialis dan dihari tuanya memiliki 38 karyanya namun 9 karya dimusnahkan rezim saat di penjara. Karya kakek pram telah diterjemahkan keberbagai puluhan bahasa di Negara-negara lain.
Hamka, Soekarno, Pramodya adalah tokoh-tokoh negarawan yang membangun semangat ketulusan dengan warna yang berbeda. “Tulus” mau bagaimanapun ia ditutupi oleh sejarah dusta sekalipun, akan mengintip zaman dan mencari celah keluar untuk membuktikan kebenaran yang sesungguhnya.


You Might Also Like

0 komentar

Ayo Gabung

SUBSCRIBE NEWSLETTER

Get an email of every new post! We'll never share your address.

Dharma

Dharma
Selamatkan kekayaan Indonesia

Ad Banner

Ad Banner