AIDS DAN MARKETING KONDOM

07.08.00



Oleh : DHARMA SETYAWAN
Mahasiswa Ekonomi Islam Sekolah Pascasarjana UGM

Pertemuan Nasional (PERNAS) AIDS IV berlangsung tanggal 3 sampai 6 oktober 2011 di Yogyakarta. PERNAS diikuti sekitar 1500 peserta dari berbagai elemen yang terkait dengan penanggulangan penyakit HIV / AIDS. Acara ini menghadirkan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Menteri koordinator kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) X, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, Pemerintah Daerah, LSM, Masyarakat sipil serta penggiat pencegahan HIV / AIDS. Acara ini merupakan ritual bagi pemangku kebijakan yang diharapkan dapat mengatasi masalah penyakit mematikan yang sampai hari ini belum ditemukan obatnya. Sultan pun berharap dalam sambutan pembukaan bahwa acara ini untuk menagih janji dari sejumlah slogan yang dikampanyekan oleh aktivis AIDS selama ini.
Sejarah Penyakit Mematikan
Menurut Wikipedia sejarah penyakit AIDS yaitu Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain). Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara. Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia. Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak. Di Amerika sendiri penyakit ini menjadi penyakit paling berbahaya dan semakin meningkat. Centers for Disease Control and Prevention (Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) Amerika mencatat, setiap tahun terdapat 40 ribu kasus baru HIV/AIDS. Situasi yang lebih mengerikan adalah sekitar 252 ribu hingga 315 ribu orang di Amerika tidak mengetahui dirinya mengidap HIV/AIDS. Karena tidak mengetahui bahwa dirinya mengidap HIV, maka risiko penularan terhadap orang lain semakin besar.
Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) nasional yang diwakili oleh Nafsiah Mboi mengungkapkan bahwa di Indonsia lebih dari 12 juta pria bertransaksi di tempat lokalisasi. Hal ini menjadi penyebab penyakit berbahaya ini mudah menular ke keluarga karena virus langsung ditularkan ke istri dan anak. Selain itu pergaulan bebas remaja dan bergonta-ganti pasangan mengamini virus ini melaju pesat ke lapisan generasi muda.
PERNAS AIDS dan Marketing Kondom  
Acara Peringatan Nasional (PERNAS) AIDS sayangnya hanya menjadi ritual para pemangku kebijakan. Upaya yang dilakukan pun tak lebih sebagai kampanye slogan dan euforia untuk memperingati bahaya AIDS di masyarakat. Di Jogja sendiri acara juga disajikan dengan pentas musik dangdut mengundang artis berpakaian erotis Julia Perez di halaman hotel Inna Garuda Yogyakarta tempat acara berlangsung. Tontonan erotisme ini pun memberikan sejumlah hadiah menarik kepada pengunjung. Yang lebih memprihatinkan lagi jargon pencegahan penyakit HIV / AIDS hanya menjadi simbolis kampanye karena di sponsori oleh perusahaan kondom Fiesta Sutra. Acara tersebut juga dikemas secara menarik dengan adanya Sales Promotion Girl (SPG) yang menjaga Stan Fiesta Sutra. Dari peringatan nasional pencegahan penyakit AIDS tersebut ada beberapa yang perlu menjadi koreksi bagi pemerintah dan penyelenggara peringatan nasional tersebut.
Pertama, bahwa pemerintah kita telah sesat fikir terhadap upaya dan cara penanggulangan penyakit HIV / AIDS. Dengan mengundang artis erotis seperti Julia Perez substansi pencegahan HIV / AIDS hanya menjadi omong kosong, karena tontonan di atas sangat tidak mendidik dan memberi ajaran buruk bagi pengunjung yang mayoritas adalah generasi muda. Dengan melibatkan pentas musik dangdut acara PERNAS tersebut seolah-olah kehilangan ide untuk menyajikan acara yang lebih baik sebagai pola kampanye penyadaran masyarakat. Tontonan erotis tersebut semakin menegaskan bahwa masyarakat kita memang sengaja dididik untuk menikmati acara erotisme seperti penampilan artis Julia Perez. Dalam hal ini peran agama dan instrumen institusi lembaga negara semakin jauh dari bentuk ajaran moral untuk sama-sama intropeksi terhadap sebuah bencana penyakit. Agama apapun pasti tidak sepakat dengan perbuatan pergaulan bebas yang selama ini telah menimbulkan penyakit akut. Negara-negara maju seperti Amerika pun faktanya tidak dapat menyelesaikan penyakit AIDS yang sudah terjadi sekian lama. Kita kalah dengan Malaysia, negara kecil yang melibatkan agama dalam menanggulangi pergaulan bebas dengan memperbaiki moral masyarakat dengan institusi dan peran agama.
Kedua, penyelenggaran PERNAS AIDS tersebut semakin fatal dan mubazir dengan adanya Stan kondom oleh sponsor perusahaan Fiesta Sutra. Dengan menampilkan para sales promotion Girl (SPG) yang berpakaian mini dan menarik pengunjung untuk membeli kondom yang perusahaan sediakan. Secara langsung acara ini juga sebagai bentuk bazar kondom dan menyusuh masyarakat kita untuk melakukan pergaulan bebas. Dengan kondom di jual bebas maka hubungan bebas lawan jenis dilegalkan di depan para Menteri dan jajaran pemerintah yang hadir dalam acara tersebut. Keuntungan penjualan kondom telah membuat bangsa ini banyak berkorban dan rugi berlipat-lipat untuk upaya penanggulangan. Selain itu  dana kampanye untuk pencegahan HIV / AIDS hanya menjadi lahan proyek oleh sebagian institusi yang tidak bertanggung jawab.
Negara ini sudah cukup banyak masalah yang timbul, namun penyelesaian yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan selalu jauh panggang dari api. Faktanya kita semakin enggan untuk membawa ajaran agama dalam mengelola negara besar ini. Agama menjadi entitas yang selalu memberi ketakutan untuk dijadikan solusi. Alasan klasik agama dilarang mengintervensi negara. Sekuat apapun kita mengkampanyekan tentang bahaya HIV / AIDS pada kenyataannya penyakit ini tidak kunjung berkurang tapi malah meningkat. Sepintar apapun ahli untuk memberi solusi tetap kita membutuhkan sebuah tatanan moralitas manusia yang hanya dapat dipahamkan dengan ajaran agama. Ajaran agama apapun itu pasti menolak tegas tentang perilaku penyimpangan seks. Kita perlu berfikir sehat agara kita tidak semakin sesat fikir!

You Might Also Like

0 komentar

Ayo Gabung

SUBSCRIBE NEWSLETTER

Get an email of every new post! We'll never share your address.

Dharma

Dharma
Selamatkan kekayaan Indonesia

Ad Banner

Ad Banner